Showing posts with label References. Show all posts
Showing posts with label References. Show all posts

February 15, 2016

LAMP - Loop Mediated Isothermal Amplification

LAMP - Loop Mediated Isothermal Amplification
"LAMP" stands for Loop-mediated Isothermal Amplification. This technology was developed by Notomi et al. It is a very sensitive, easy and time efficient method. The LAMP reaction proceeds at a constant temperature using a strand displacement reaction.

Types of Primers used in LAMP

LAMP is characterized by the use of 4 different primers specifically designed to recognize 6 distinct regions of the target gene. The four primers used are as follows:
1. Forward Inner Primer (FIP): The FIP consists of a F2 region at the 3'end and a F1c region at the 5'end. The F2 region is complementary to the F2c region of the template sequence. The F1c region is identical to the F1c region of the template sequence.
2. Forward Outer Primer (FOP): The FOP (also called F3 Primer) consists of a F3 region which is complementary to the F3c region of the template sequence. This primer is shorter in length and lower in concentration than FIP.
3. Backward Inner Primer (BIP): The BIP consists of a B2 region at the 3'end and a B1c region at the 5'end. The B2 region is complementary to the B2c region of the template sequence. The B1c region is identical to the B1c region of the template sequence.
4. Backward Outer Primer (BOP): The BOP (also called B3 Primer) consists of a B3 region which is complementary to the B3c region of the template sequence.

Multiplex PCR

Introduction of Multiplex PCR

Multiplex PCR is a widespread molecular biology technique for amplification of multiple targets in a single PCR experiment. In a multiplexing assay, more than one target sequence can be amplified by using multiple primer pairs in a reaction mixture. As an extension to the practical use of PCR, this technique has the potential to produce considerable savings in time and effort within the laboratory without compromising on the utility of the experiment.

Types of Multiplex PCR

Multiplexing reactions can be broadly divided in two categories:

1. Single Template PCR Reaction
This technique uses a single template which can be a genomic DNA along with several pairs of forward and reverse primers to amplify specific regions within a template.
2. Multiple Template PCR Reaction
It uses multiple templates and several primer sets in the same reaction tube. Presence of multiple primers may lead to cross hybridization with each other and the possibility of mis-priming with other templates.

NASBA Technology

Introduction to NASBA

RNA detection is commonly done using RT-PCR, a time consuming process often resulting in false positives due to cross contamination. Alternatively, nucleic acid sequence-based amplification (NASBA) is a one step isothermal process for amplifying RNA. NASBA has proven to be successful in detection of both viral and bacterial RNA in clinical samples.
A NASBA reaction consists of avian myeloblastosis virus (AMV), reverse transcriptase (RT), T7 RNA polymerase and RNase H with two oligonucleotide primers. The amplification is more than 1012 fold in 90 to 120 minutes. The amplification of ssRNA is possible only when the denaturation of dsDNA does not occur. As NASBA is an isothermal process, it is thus possible. The NASBA reaction does not get false positives caused by genomic dsDNA, as in the case of RT-PCR.

PCR Primer Design Guidelines

PCR (Polymerase Chain Reaction)

Polymerase Chain Reaction is widely held as one of the most important inventions of the 20th century in molecular biology. Small amounts of the genetic material can now be amplified to be able to a identify, manipulate DNA, detect infectious organisms, including the viruses that cause AIDS, hepatitis, tuberculosis, detect genetic variations, including mutations, in human genes and numerous other tasks.
PCR involves the following three steps: Denaturation, Annealing and Extension. First, the genetic material is denatured, converting the double stranded DNA molecules to single strands. The primers are then annealed to the complementary regions of the single stranded molecules. In the third step, they are extended by the action of the DNA polymerase. All these steps are temperature sensitive and the common choice of temperatures is 94oC, 60oC and 70oC respectively. Good primer design is essential for successful reactions. 

October 26, 2015

Golongan, Kode Cara Kerja dan Cara Kerja Insektisida

Dalam melakukan rotasi insektisida yang perlu diperhatikan adalah mengetahui cara kerja bahan aktif pestisida yang akan digunakan. Anjuran Insecticide Resistance Action Committee (IRAC) dan Fungicide Resistance Action Committe (FRAC) dalam melakukan rotasi insektisida yaitu berdasarkan cara kerja yang berbeda, karena beberapa bahan aktif yang berbeda memiliki cara kerja yang sama. IRAC dan FRAC memberi kode pada setiap cara kerja insektisida untuk mempermudah petani dalam melakukan pergiliran (rotasi) insektisida. Berikut ini tabel golongan insektisida, bahan aktif, kode cara kerja dan cara kerja pestisida :
Berdasarkan cara kerjanya (Mode of action), yaitu menurut sifat kimianya, insektisida dibagi menjadi empat 4 golongan besar antara lain sebagai berikut :

1. Insektisida Golongan Organoklorin

Merupakan insektisida sintetik yang paling tua yang sering disebut hidrokarbon klor. Secara umum diketahui bahwa keracunan pada serangga ditandai dengan terjadinya gangguan pada sistem saraf pusat yang mengakibatkan terjadinya hiperaktivitas, gemetar, kemudian kejang hingga akhirnya terjadi kerusakan pada saraf dan otot yang menimbulkan kematian. Organoklorin bersifat stabil di lapangan, sehingga residunya sangat sulit terurai.

2. Insektisida Golongan Organofosfat

Merupakan insektisida yang bekerja dengan menghambat enzim asetilkolinesterase, sehingga terjadi penumpukan asetilkolin yang berakibat pada terjadinya kekacauan pada sistem pengantar impuls saraf ke sel-sel otot. Keadaan ini menyebabkan impuls tidak dapat diteruskan, otot menjadi kejang, dan akhirnya terjadi kelumpuhan (paralisis) dan akhirnya serangga mati.

3. Insektisida Golongan Karbamat

Merupakan insektisida yang berspektrum luas. Cara kerja karbamat mematikan serangga sama dengan insektisida organofosfat yaitu melalui penghambatan aktivitas enzim asetilkolinesterase pada sistem saraf. Perbedaannya ialah pada karbamat penghambatan enzim bersifat bolak-balik reversible yaitu penghambatan enzim bisa dipulihkan lagi. Karbamat bersifat cepat terurai.

4. Insektisida Golongan Piretroid

Merupakan piretrum sintetis, yang mempunyai sifat stabil bila terkena sinar matahari dan relatif murah serta efektif untuk mengendalikan sebagain besar serangga hama. Piretroid mempunyai efek sebagai racun kontak yang kuat, serta mempengaruhi sistem saraf serangga pada peripheral (sekeliling) dan sentral (pusat). Peretroid awalnya menstimulasi sel saraf untuk berproduksi secara berlebih dan akhirnya menyebabkan paralisis dan kematian.

Tabel Cara Kerja Insektisida dan Akarisida

No Golongan Nama bahan aktif Kode cara kerja Cara kerja
1 Karbamat Alankarb-Aldikarb-Bendiokarb-Benfurakarb-Butokarboksim-Butoksikarboksim-Karbaril-Karbofuran-Karbosulfan-Etiofenkarb-Fenobukarb-Formetanat-Furatiokarb-Isoprokarb-Metiokarb-Metomil-Metolkarb-Oksamil-Pirimikarb-Propoksur-Tiodikarb-Tiofanoks-Triazamat-Trimetakarb-XMC-Silikarb 1 A Menghambat AChE (acetylcholinesterase)-menyebabkan hyperexcitation. AChE adalah enzim yang mengakhiri aksi rangsang neurotransmiter asetilkolin pada sinapsis saraf.

Organofosfat Asefat-Azametifos-Azinfos-etil-Azinfosmetil-Kadusafos-Koretoksifos-Klorfenvinfos-Klormefos-Klorpirifos-Klorpirifosmetil-Koumafos-Sianofos-Demeton S metil-Diazinon-Diklorfos/DDVP-Dikrotofos-Dimetoat-Dimetilvinfos-Disulfoton-EPN-Etion-Etoprofos-Famfur-Fenamifos-Fenitrotion-Fention-Fostiazat-Heptenofos-Imisiafos-Isofenfos-Isoprofil O- (metoksiaminotio-fosforil) salisilat-Isoksation-Malation-Mekarbam-Metamidofos-Metidation-Mevinfos-Monokrotofos-Naled-Ometoat-Oksidemeton metil-Paration-Paration metil-Fentoat-Forat-Fosalon-Fosmet-Fosfamidon-Foksim-Pirimifos metil-Profenofos-Propetamfos-Protiofos-Firaklofos-Firidafention-Kuinalfos-Sulfotep-Tebupirimfos-Temefos-Terbufos-Tetraklorvinfos-Tiometon-Triazofos-Triklorfon-Vamidotion 1 B
2 Siklodin organoklorin Klordan-Endosulfan 2 A Memblokir saluran klorida aktivasi GABA menyebabkan hyperexcitation dan kejang-kejang. GABA adalah neurotransmiter inhibisi utama pada serangga.

Fenilfirazol Etiprol-Fipronil 2 B
3 Piretroid dan Piretrin Acrinatrin-(Alletrin-d-cis-trans Alletrin)-(d-trans Alletrin)-Bifentrin-Bioalletrin-Bioalletrin Siklopentenil isomer-Bioresmetrin-Sikloprotrin-Siflutrin-(beta-Siflutrin)-Sihalotrin-lambda Sihalotrin-(gamma-Sihalotrin)-Sipermetrin-(alfa-Sipermetrin)-(beta-Sipermetrin)-tetasipermetrin-(zeta-Sipermetrin)Sifenotrin-(1R)-trans- isomers-Deltametrin-Empentrin (EZ)- (1R)- isomers-Esfenvalerat-Etofenprox-Fenpropatrin-Fenvalerat-Flusitrinat-Flumetrin-(tau- Fluvalinat)-Halfenprox-Imiprotrin-Kadetrin-Permetrin-Fenotrin [(1R)-trans- isomer]-Pralletrin-Firetrins (piretrum)-Resmetrin-Silafluofen-Teflutrin-Tetrametrin-Tetrametrin [(1R)-isomers]-Tralometrin-Transflutrin 3 A Menyebabkan saluran natrium selalu terbuka sehingga pada beberapa kasus menyebabkan reaksi berlebihan oleh saraf. Saluran natrium terlibat dalam penyebaran info potensial di sepanjang akson saraf.

DDT dan Metoksiklor DDT-Metokdiklor 3 B
4 Neonikotinoid Asetamiprid-Klotianidin-Dinotefuran-Imidakloprid-Nitenpiram-Tiakloprid-Tiametoxam 4 A Meniru tindakan agonis asetilkolin di nAChRs menyebabkan hyperexcitation. Asetilkolin adalah neurotransmitter utama dalam sistem saraf serangga pusat.

Nikotin Nikotin 4 B
5 Spinosin Spinetoram-Spinosad 5 Allosterically mengaktifkan nAChRs menyebabkan hyperexcitation dari sistem saraf.
6 Avermektin dan Milbemisin Abamektin-Emamektin benzoat-Lepimektin-Milbemektin 6 Allosterically mengaktifkan saluran utama klorida glutamat (GluCls) menyebabkan kelumpuhan. Glutamat adalah inhibitory neurotransmiter penting dalam serangga.
7 ZPT Hidropren-Kinopren-Metopren 7 A Diterapkan di pra-metamorfik instar. Senyawa ini mengganggu dan mencegah metamorfosis.

Fenoksikarb Fenoksikarb 7 B

Piriproksipen Piriproksipen 7 C
8 Akil halida Metil bromida and other alkil halid 8 A Menghambat pembentukan sel. hanya mekanismenya belum diketahui.

Kloropikrin Kloropicrin 8 B

Sulfuril fluorid Sulfuril fluroid 8 C

Boraks Borax 8 D

Tartar emetrik Tartar emetrik 8 E
9 Pimetrozin Pimetrozin 9 B Menyebabkan penghambatan makan selektif pada kutu putih dan kutu daun

Flonikamid Flonikamid 9 C
10 Klofentezin – Heksitiazok – Diflovidazin Klofentezin – Heksytiazoks – Diflovidazin 10 A Menghambat pertumbuhan tungau

Etoksazol Etoksazol 10 B
11 Bacillus thuringiensis atau Bacillus sphaericus Bacillus thuringiensis subsp. israelensis-Bacillus sphaericus-Bacillus thuringiensis subsp. aizawai-Bacillus thuringiensis subsp. kurstaki-Bacillus thuringiensis subsp. tenebrionis. Bt crop proteins: Cry1Ab; Cry1Ac; Cry1Fa; Cry2Ab; mCry3A; Cry3Ab; Cry3Bb; Cry34/35Ab1 - Racun protein yang mengikat pada reseptor pada membran saluran pencernaan tengah dan mendorong pembentukan pori-pori mengakibatkan ketidakseimbangan ion dan septicaemia
12 Diafentiuron Diafentiuron 12 A Menghambat enzim yang mensintesis ATP pada mitokondria

Organotin mitisid Azosiklotin-Siheksatin-Fenbutatin oksid 12 B

Propargit Propargit 12 C

Tetradifon Tetradifon 12 D
13 Klorfenapir – DNOC – Sulfuramid Klorfenapir-DNOC-Sulfuramid 13 Gangguan pada gradien proton; sirkuit gradien proton (disebut : protonofores) yang pendek pada mitokondria sehingga ATP tidak dapat disintesis.
14 Nereistoksin analog Bensultap-Kartap hidroklorid-Tiosiklam-(Tiosultap-sodium) 14 Memblokir saluran ion nAChR sehingga blok sistem saraf dan kelumpuhan. Asetilkolin adalah excitatory neurotransmitter (penghubung) utama dalam sistem saraf serangga pusat.
15 Benzoilurea Bistrifluron-Klorfluazuron-Diflubenzuron-Flusikloksuron-Flufenoksuron-Heksaflumuron-Lufenuron-Novaluron-Noviflumuron-Teflubenzuron-Triflumuron 15 Menghambat biosintesis kitin
16 Buprofezin Buprofezin 16 Menghambat biosintesis kitin pada beberapa serangga khususnya kutuputih
17 Siromazin Siromazin 17 Merontokkan kutikula saat proses pergantian kulit serangga
18 Diasilhidrazin Kromafenozid-Halofenozid-Metoksifenozid-Tebufenozid 18 Meniru hormon ganti kulit (ekdison) menginduksi kutikula serangga dewasa agar rontok sebelum waktunya
19 Amitraz Amitraz 19 Mengaktifkan reseptor oktopamin mengarah ke hyperexcitation (rekasi saraf berlebihan). Oktopamin adalah hormon pada serangga yang menyerupai adrenalin seperti neurohormon untuk pertahanan diri atau untuk terbang.
20 Hidrametilnon Hidrametilnon 20 A Menghambat transpor elektron pada mitokondria sehingga mencegah pemanfaatan energi oleh sel.

Asequinosil Asequinosil 20 B

Fluacripirim Fluacripirim 20 C
21 METI akarisida dan insektisida Fenazakuin-Fenpiroksimat-Pirimidifen-Piridaben-Tebufenpirad-Tolfenpirad 21 A Menghambat transpor elektron pada mitokondria sehingga mencegah pemanfaatan energi oleh sel.

Rotenon Rotenon (Derris) 21 B
22 Indoksakarb Indoksakarb 22 A Memblokir saluran natrium menyebabkan pemadaman sistem saraf dan kelumpuhan. Saluran natrium yang terlibat dalam penyebaran potensial aksi di sepanjang akson saraf.

Metaflumizon Metaflumizon 22 B
23 Asam Tetronik dan Asam Tetramik Spirodiklofen-Spiromesifen-Spirotetramat 23 Menghambat kerja asetil koenzim A karboksilase untuk mensintesis lipid yang merupakan langkah pertama dalam biosintesis lipid sehingga menyebabkan kematian serangga.
24 Fosfin Aluminium fosfid-Kalsium fosfid-Fosfine-Zinc fosfid 24 A Menghambat transpor elektron pada mitokondria sehingga mencegah pemanfaatan energi oleh sel.

Sianida Sianida 24 B -
25 Turunan Beta-Ketonitril Sienopirafen-Siflumetofen 25 Menghambat transpor elektron pada mitokondria sehingga mencegah pemanfaatan energi oleh sel.
28 Diamida Chlorantraniliprole-Cyantraniliprole-Flubendiamide 28 Aktifnya otot reseptor rianodin menyebabkan kontraksi dan kelumpuhan. Reseptor rianodin berperan melepaskan kalsium ke dalam sitoplasma dari sel intraseluler.

August 21, 2012

Phyllanthus niruri ( Meniran )


  Klasifikasi
Kingdom       : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom  : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi           : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas            : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas     : Rosidae
Ordo             : Euphorbiales
Famili           : Euphorbiaceae
Genus           : Phyllanthus
Spesies         : Phyllanthus niruri L.

  Morfologi
Meniran (Phyllanthus niruri) adalah tanaman semusim, tumbuh tegak, bercabang-cabang, dan tingginya antara 30cm-50cm.
1.      Batang
Tanaman meniran (Phyllanthus niruri) ini memiliki batang yang berbentuk bulat berbatang basah dengan tinggi kurang dari 50cm, berwarna hijau, diameternya ± 3 mm.
2.      Daun
Tanaman ini memiliki daun majemuk, tata letak daunnya berseling                ( Deccussate ), bentuk daun bulat telur (ovale), ujung daunnya tumpul, pangkalnya membulat, memiliki tepi daun yang rata ( Entire ), memiliki anak daun 15-24, memiliki panjang ± 1,5 cm, lebar ± 7 mm, dan berwarna hijau. Daun meniran ini termasuk pada tipe daun yang tidak lengkap yaitu pada bagian daun bertangkai karena tanaman ini hanya memiliki tangkai dan beberapa heliaan daun.
3.      Bunga
Tanaman ini memiliki bunga tunggal yang terdapat pada ketiak daun menghadap ke arah bawah, menggantung dan berwarna putih. Memiliki daun kelopak yang berbentuk bintang, benang sari dan putik tidak terlihat jelas, mahkota bunga kecil dan berwarna putih.
4.      Buah
Tanaman ini memiliki buah yang berbentuk kotak, bulat pipih dan licin, diameter  ± 2mm dan berwarna hijau.
5.      Biji
Tanaman ini memiliki biji yang kecil, keras dan berbentuk ginjal serta berwarna coklat.
6.      Akar
Tanaman ini memiliki akar tunggang yang berwarna putih.

HERBARIUM

Dalam mempelajari biologi kita akan menemukan masalah dan akan berusaha memecahkan permasalahan itu. Misalnya, tidak semua objek penelitian dengan mudah ditemukan disekitar kita karena objek tersebut langka atau habitat jauh (dipantai atau di gunung) sehingga kita membutuhkan suatu koleksi awetan. Koleksi tersebut dappat membantu kita dalam mempelajari biologi. 
Contoh koleksi objek biologi adalah insektarium, herbarium, dan taksiderium. Dalam hal ini kita akan lebih khusus membahas mengenai herbarium. 2Beberapa yang harus diperhatikan dalam membuat koleksi awetan adalah sebagai berikut :
  1. Kelengkapan organ tubuh objek,
  2. Cara pengawetan dan penyimpanan objek
  3. Kelestarian objek dengan membatasi pengambilan objek.
Pada awalnya banyak spesimen herbarium disimpan di dalam buku sebagai koleksi pribadi tetapi pada abad ke-17 praktek ini telah berkembang dan menyebar di Eropa. Karl von Linné (1707-1778) adalah orang berjasa mengembangkan teknik herbarium.
Herbarium digunakan ilmuwan untuk memahami dunia tumbuhan. Herbarium pertama kali ditemukan pada tahun 1600-an di Eropa. Cara paling sederhana untuk membuat herbarium adalah dengan mengeringkan organ tumbuhan yang selanjutnya ditata, diberi label, alu disimpan. Namun, jika ingin hasilnya lebih bagus dan awet, maka kita perlu melakukan pengawetan. Larutan pengawetan untuk membuat herbarium basah dan kering berbeda. Untuk membuat herbarium kering kita dapat menggunakan bahan pengawet tunggal ataupun pengawet campuran. Objek tumbuhan yang hendak dibuat herbarium dicelupkan atau direndam beberapa menit dalam larutan pengawet tersebut lalu dikeringkan dengan cara dijemur atau diangin-anginkan. Pengeringan objek tumbuhan juga dapat dilakukan dengan menggunakan oven pada suhu 60-70o C. Pengeringan dengan menggunakan oven untuk organ daun akan kurang baik hasilnya karena daun akan menjadi lebih mudah rusak.
Pengawetan terhadap hewan atau tumbuhan dapat dilakukan degan cara basah atau kering. Cara dan bahan pengawet yang digunakan bervariasi, bergantung pasa isfat objeknya. Untuk organ tumbuhn yang berdaging, seperti buah, biasanya dilakukan pengawetan dengan menggunakan awetan basah. Organ tumbuhan, sperti daun, batang, dan akar, dilakukan pengawetan dengan menggunakan awetan kering.

August 20, 2012

DENGUE

Pendahuluan
Dengue merupakan penyakit virus asal arthropoda yang paling penting di daerah tropis dan subtropis di dunia dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di Amerika, Asia dan Afrika.1.2.3   Infeksi  Dengue merupakan masalah kesehatan internasional, badan kesehatan dunia The World Health Organization (WHO)  memperkirakan  sekitar 2,5 miliar penduduk dunia berisiko terinfeksi dengan kejadian infeksi 50 sampai 100 juta kasus setiap tahunnya.2,4
Dengue ditemukan di daerah tropis dan subtropis terutama diperkotaan dan pinggiran kota. Demam Berdarah Dengue, berpotensi terjadi komplikasi yang mematikan, dikenal pertama kali pada tahun 1950 pada kejadian epidemik di Thailand dan Philipina. Dewasa ini Demam Berdarah Dengue merupakan penyebab utama kasus perawatan rumah sakit dan kematian khususnya pada anak-anak. Proses penyembuhan dari infeksi oleh salah satu tipe virus akan menimbulkan kekebalan seumur hidup, akan tetapi tidak bersifat protektif terhadap ketiga tipe virus lainnya. Telah terdapat  banyak bukti yang menyatakan bahwa infeksi kedua (secondary infection) virus akan menyebabkan infeksi lebih berkembang ke arah Demam Berdarah Dengue (DBD). Insiden  Dengue di dunia sebanyak 2,5 miliar, sebanyak dua perlima penduduk dunia berada dalam risiko terinfeksi Dengue. Badan kesehatan dunia WHO memperkirakan 50 juta infeksi Dengue terjadi di seluruh dunia setiap tahunnya. Ditahun 2007 sendiri dilaporkan 890.000 kasus infeksi Dengue di Amerika, dimana 26.000 adalah infeksi Demam Berdarah Dengue.1
Meskipun banyak  infeksi Dengue bersifat asimtomatik, beberapa menimbulkan bermacam-macam gejala klinis mulai dari demam ringan yang tidak spesifik, Dengue fever (DF), Dengue haemorraghic fever (DHF) sampai yang mengarah kepada penyakit yang berat Dengue shock syndrome (DSS).  Demam Dengue  (DF) ditandai dengan demam, kemerahan kulit, sakit kepala, nyeri tulang  dan lesu akan tetapi gejala dapat berkembang ke arah yang lebih berat yaitu (DHF/DSS). DHF ditandai dengan kelainan vaskuler yaitu kebocoran kapiler dan gangguan hematologis dengan penurunan jumlah trombosit (thrombocytopenia), peningkatan jumlah sitokin, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, dan perdarahan spontan sedangkan DSS berkembang ke arah syok hipovolemik.4,5,7 Pada kasus  DHF/DSS meningkat seiring  dengan  peningkatan jumlah virus, hampir 35-37% kasus infeksi Dengue memerlukan perawatan rumah sakit.4 Telah diketahui lebih dari 100 negara, virus Dengue merupakan faktor penyebab penyakit dan mengancam hampir 40% (2,5 miliar) seluruh penduduk dunia.6
Saat ini belum ada obat yang sesuai untuk penanganan demam berdarah Dengue selain terapi suportif. 4,5,7 Demam Dengue yang tidak dirawat dan mengalami komplikasi dapat mencapai angka kematian 50%. Berdasarkan data WHO, DSS/DHF adalah merupakan penyebab utama kematian anak-anak dibeberapa Negara Asia.4

July 12, 2012

Temephos

TRADE OR OTHER NAMES

Trade names for products containing the compound include Abat, Abate, Abathion, Biothion, Bithion, Difennthos, Ecopro, Nimitox, and Swebate. The compound may also be found in mixed formulations with other insecticides including trichlorfon.

INTRODUCTION

Temephos is an non-systemic organophosphorus insecticide used to control mosquito, midge and black fly larvae. It is used in lakes, ponds and wetlands. It also may be used to control fleas on dogs and cats and to control lice on humans. Temephos is a General Use Pesticide.

January 30, 2012

Password Recovery Steps for Cisco Catalyst 2960 Switch

Step 1:
Connect your PC to the console port of the Cisco switch and open terminal emulation Software on your PC (Ex. Hyper Terminal).
Use the following terminal emulation settings:
  • Bits per second (baud): 9600
  • Data bits: 8
  • Parity: None
  • Stop bits: 1
  • Flow Control: Xon/Xoff
Cisco Password Recovery


January 11, 2011

Avian Influenza Research Articles

December 26, 2010

EID Volume 16 Number 2, February 2010


Volume 16, Number 2–February 2010

  • Associations between Mycobacterium tuberculosis Strains and Phenotypes (PDF)
  • Avian Influenza (H5N1) Outbreak among Wild Birds, Russia, 2009 (PDF)
  • Bordetella pertussis Clones Identified by Multilocus Variable-Number Tandem-Repeat Analysis (PDF)
  • Bronchial Casts and Pandemic (H1N1) 2009 Virus Infection (PDF)
  • Cost-effectiveness of Pharmaceutical-based Pandemic Influenza Mitigation Strategies (PDF)
  • Cryptococcus gattii (PDF)
  • Detection of Pandemic (H1N1) 2009 Virus in Patients Treated with Oseltamivir (PDF)
  • Domestic Animals and Epidemiology of Visceral Leishmaniasis, Nepal (PDF)
  • Effects of Coronavirus Infections in Children (PDF)
  • Emergence of Increased Resistance and Extensively Drug-Resistant Tuberculosis Despite Treatment Adherence, South Africa (PDF)
  • Employment and Compliance with Pandemic Influenza Mitigation Recommendations (PDF)
  • Epidemiology of Cryptococcus gattii, British Columbia, Canada, 1999-2007 (PDF)
  • Evidence-based Tool for Triggering School Closures during Influenza Outbreaks (PDF)
  • Extensive Mammalian Ancestry of Pandemic (H1N1) 2009 Virus (PDF)
  • Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome, Vietnam (PDF)
  • Household Responses to Pandemic (H1N1) 2009-related School Closures, Perth, Western Australia (PDF)
  • Human African Trypanosomiasis in Areas without Surveillance (PDF)
  • Human Hendra Virus Encephalitis Associated with Equine Outbreak, Australia, 2008 (PDF)
  • Imported Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus, Sweden (PDF)
  • Increasing Incidence of Nontuberculous Mycobacteria, Taiwan, 2000-2008 (PDF)
  • Investigating an Airborne Tularemia Outbreak, Germany (PDF)
  • Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus ST398, Italy (PDF)
  • Mycobacterium tuberculosis Beijing Strain, Bamako, Mali (PDF)
  • Neisseria meningitidis Serogroup W135, China (PDF)
  • Neisseria meningitidis Serogroup X Sequence Type 2888, Italy (PDF)
  • Novel Human Bocavirus in Children with Acute Respiratory Tract Infection (PDF)
  • Origin of Highly Pathogenic Porcine Reproductive and Respiratory Syndrome Virus, China (PDF)
  • Pandemic (H1N1) 2009 Cases, Buenos Aires, Argentina (PDF)
  • Pandemic (H1N1) 2009 Outbreak on Pig Farm, Argentina (PDF)
  • Perinatal Pandemic (H1N1) 2009 Infection, Thailand (PDF)
  • Plasmodium falciparum Malaria, Southern Algeria, 2007 (PDF)
  • Risk Factors for and Estimated Incidence of Community-associated Clostridium difficile Infection, North Carolina, USA (PDF)
  • Seropositivity for Enterocytozoon bieneusi, Czech Republic (PDF)
  • Severe Leptospirosis in Hospitalized Patients, Guadeloupe (PDF)
  • Statewide School-located Influenza Vaccination Program for Children 5-13 Years of Age, Hawaii, USA (PDF)
  • The Critical Role of Permanent Voucher Specimens of Hosts and Vectors in Public Health and Epidemiology (PDF)
  • Tropheryma whipplei in Patients with Pneumonia (PDF)
  • Using Museum Collections to Detect Pathogens (PDF)