May 29, 2013

Avian Mycoplasma

Mycoplasma merupakan mikroorganisme prokariot terkecil, yaitu mikroorganisme yang tidak memiliki membran inti sel. Ada yang berpendapat bahwa Mycoplasma dapat dimasukkan dalam kelompok bakteri Gram negatif karena tidak adanya membran inti sel ini, namun ada pula yang berpendapat Mycoplasma dikelompokkan tersendiri. Namun kepekaan Mycoplasma terhadap antibiotik berbeda dengan bakteri Gram negatif
Mycoplasma dapat menginfeksi seluruh jenis hewan. Di unggas, mikrooganisme ini sering menginfeksi saluran respirasi (pernapasan), terutama kantung hawa. Diantara lain Terdapat dua Mycoplasma yang menyerang unggas yaitu Mycoplasma gallisepticum (penyebab CRD) dan M. gallinarum. Ayam yang sembuh dari serangan Mycoplasma akan bersifat carrier (pembawa, red)
Mycoplasmosis yang disebabkan oleh Mycoplasma gallinarum telah menyebar hampir diseluruh dunia terutama di negeri Belanda, Jerman, Perancis, Inggris, Swiss, Canada, Mesir, Australia, Brazilia, Filipina, India dan Jepang.
Di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh Richey dan Dirdjosoebroto dengan survey serologis pada tahun 1965. Dari survei ini ditemukan reaktor Mycoplasma gallinarum diberbagai daerah. Di Indonesia Mycoplasma gallinarum sudah berasil diisolasi dari anak ayam ras petelur di BPPH Medan.
Puernomo (1980) mengatakan di Indonesia Mycoplasmosis telah tersebar hampir disemua daerah. Hal ini telah dibuktikan secara serologis maupun bakteriologis. Sedangkan hasil survey serologis selain ayam ras juga ditemukan penyaktit ini pada ayam kampung. Diberbagai daerah khususnya di Aceh pemeliharaan unggas masih banyak yang menggunakan sistem pemeliharaan tradisional tanpa memperhatikan faktor-faktor berjangkitnya suatu penyakit.
Kondisi pemeliharaan ternak yang demikian akan memudahkan penyebaran Mycoplasma gallinarum pada suatu populasi unggas. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara memisahkan semua ayam carier, kontrol suhu, kelembaban dan heat indeks.
Klasifikasi Mycoplasma gallinarum
Kingdom         Bacteria
Phylum 
           Tenericutes atau Firmicutes
Class 
               Mollicutes
Order 
              Mycoplasmatales
Family
             Mycoplasmataceae
Genus 
             : Mycoplasma
Spesies            Mycoplasma gallinarum

Delephane dan stuart pada tahun 1943 adalah orang pertama memberi nama penyakit pernafasan dengan nama Mycoplasmosis atau Chronic Respiratory Desease (CRD). Mereka telah dapat mengisolasi penyebab penyakit ini pada telur ayam berembio.
Umumnya ayam-ayam yang terinfeksi Mycoplasma gallinarum mudah mengalami infeksi sekunder oleh Escherichia coli, Haemophilus gallinarum, virus Newcastle desease dan Virus Bronchitis infektiosa. Dengan demikian mudah terjadi komplikasi kantong hawa yang parah.
Selanjutnya poernomo (1978) menjelaskan, Escherichia coli tidak mudah menginfeksi kantong hawa, jika tidak lebih dahulu diserang oleh Mycoplasmosis ayam-ayam yang sembuh dari infeksi Mycoplasma gallinarum kebanyakan carier sehingga dapat menularkan penyakit ini pada ayam-ayam yang lain.
Mycoplasmosis atau Cronic Respiratory Disease (CRD) merupakan suatu penyakit saluran pernafasan menular pada ayam yang disebabkan oleh Mycoplasma gallinarum. Penyakit ini bersifat akut pada ayam-ayam muda sedangkan pada ayam dewasa bersifat laten dan kronis. Panyakit Mycoplasmosis yang disebabkan oleh Mycoplasma gallinarum ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar.
Kerugian yang ditimbulkannya antara lain pertumbuhan yang lambat, daya tetas dan produksi telur menurun serta biaya pengobatan yang mahal. Selain itu ayam-ayam yang menderita Mycopasmosis mudah mengalami infeksi sekunder terutama oleh Escherichia coli, Bronchitis infectiosa dan Newcastle deasese akan memperhebat penyakit dan kematian. Ayam-ayam yang sembuh dari penyaktit ini dapat menjadi carier dalam waktu yang lama sehingga merupakan sumber penularan bagi ayam-ayam yang lain.

Morfologi dan identifikasi
Ciri-ciri organisme Mycoplasma tidak dapat dipelajari dengan metode bakteriologi biasa karena ukuran koloninya kecil, sifat plastisnya serta kelembutan selnya (karena tidak memiliki dinding sel yang kaku/keras), dan ketiadaan warna ketika diberikan perlakuan perwarnaan anline.
Morfologinya berbeda-beda sesuai dengan metode pengujian (seperti pengujian dengan menggunakan mikroskop lapangan gelap, immune fluorescen, pewarnaan Giemsa pada media padat atau cair, fiksasi agar). Pertumbuhan pada media cair menghasilkan bentuk yang berbeda-beda, termasuk cincin, basilerr, spiral filament dan granul. Pertumbuhan pada media padat secara prinsip membentuk massa dengan protoplasma yang plastis dengan bentuk yang tidak jelas hingga mudah didistorsi. Struktur-struktur ini sangat bervariasi ukuran diameternya, yang berkisar antara 50 hingga 300 mm

Pertumbuhan koloni Mycoplasma gallinarum agak lambat berkisar 4-7 hari, pada suhu 370 C dengan PH 7,8, namum pewarnaan Giemsa dari sedimen yang disentrifugasi memperlihatkan karakteristik Mycoplasma gallinarum berbentuk pleomorfik dan subkultur pada media padat menghasilkan koloni-koloni cocoid dengan ukuran 0,25-0,50 mikron, bersifat Gram negatif. Bentuk koloninya jernih dengan yang menebal dibagian tengahnya dan kalau dilihat dibawah mikroskop menyerupai bentuk-bentuk mata sapi, organisme ini dapat hidup secara aerob dan gakultatif anaerob (anonimus, 1980).
Mycoplasma gallinarum mampu memfermentasi glukosa, organisme ini juga mampu menghemadsorbsi butir eritrosit ayam. Untuk menentukan spesies-spesies Mycoplasma dapat diidentifikasikan dengan cara biokimia dan serologi. Antigen CF dari Mycoplasma adalah glikolipid. Antigen untuk tes ELISA adalah protein. Beberapa spesiel mempunyai lebih dari 1 serotipe.
Mycoplasma gallinarum dapat dibiakkan pada telur ayam berembrio, biakan sel dan mediumbuatan (medium padat dan cair)yang mengandung kadar protein tinggi. Protein yang biasa digunakan adalah serum kuda atau serum babi sekitar 15-20 % yang dibubuhkan pada medium.
Mycoplasma gallinarum dapat hidup pada feses ayam selama 1-3 hari pada suhu 200 0C, pada kuning telur selama 18 minggu dengan suhu 30 oC atau 6 minggu pada suhu 20C. kuman ini tetap efektif pada chorio allantois selama 4 hari pada suhu 37C. Mycoplasma gallinarum tetap hidup dalam kaldu biakan selama 2-4 tahun jika disimpan pada suhu 300 0C.

Patogenesis
Mycoplasma gallinarum patogen memilliki bentuk seperti botol atau filament serta memiliki kutup (polartip) yang special, yang menghubungkan secara adhesi dengan sel inangnya. Struktur ini merupakan kelompok yang kompleks dari protein interaktif, adhesin dan protein ini kaya akan proline yang mempengaruhi pembungkusan dan penyatuan protein-protein dimana hal itu penting untuk proses adhesi terhadap sel. Mycoplasma gallinarum menempel pada permukaan sel yang bersilia dan yang non silia melalui sel mukosa juga dan glikolipid sulfa. Beberapa Mycoplasma kekurangan struktur tip yang khusus, namun dapat menggunakan protein adhesinnya atau memiliki mekanisme alternatif untuk menempel pada inangnya.kejadian lanjut dari infeksi kurang diketahui dengan baik, tetapi ada beberapa faktor yang dapat diketahui yaitu; sitotoksisitas langsung melalui pembentukan hidrogen peroksida dan superoksida radikal, terjadi sitolisis yang dihubungkan oleh reaksi antigen antibodi.

Epidemiologi
Penyakit ini dapat menyerang semua jenis ayam, baik ayam kampung, ayam petelur, dan ayam pedaging. Penyakit berjalan akut dan kadang-kadang kronis, dengan masa inkubasi 1-3 hari. Pada sekelompok ayam penyakit ini dapat berlangsung antara 1-3 bulan. Angka kematian umumnya rendah, yaitu antara 1-5% walaupun ada laporan sampai 30%, tetapi angka kesakitan dapat mencapai 80-100%.
Penyebaran penyakit ini hampir ditemukan diseluruh dunia, terutama di daerah yang beriklim tropis, wabah penyakit sering terjadi pada musim peralihan dari penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Ayam yang sembuh dari sakit tahan terhadap feinfeksi sekuran-kurangnya untuk satu tahun.
Penularan penyakit dapat terjadi melalui kontak langsung dengan ayam sakit atau ayam karier, tetapi dapat pula terjadi secara tidak langsung melalui air minum, pakan, dan peralatan yang terkontaminasi (Blackall et al, 1997). Infeksius Mycoplasma gallinarum dapat menyerang ayam semua umur, tetapi yang paling peka adalah ayam umur 18-23 minggu atau menjelang bertelur. Jika terinfeksi, kelompok ayam ini akan sangat terlambat berproduksinya. Pada ayam yang sedang bertelur, penurunan produksi dapat mencapai 10-40%, sedangkan pada ayam dara pengafkirannya (culling rate) dapat mencapai 20%.
Sampai sejauh ini belum pernah dilakukan survey atau penelitian mengenai epidemiologi infeksius CRD pada ayam di Indonesia secara lengkap dan terarah. Informasi yang dimaksud terbatas hanya pada data yang diambil sebagai pelengkap atau pendukung dalam rangka penelitian lain. Walaupun demikian data yang ada ini setidaknya dapat memberikan informasi yang berguna.
Seperti yang telah diuraikan terdahulu bahwa infeksius Cronic Respiratory Disease di Indonesia menyerang berbagai jenis ayam, seperti ayam kampong, ayam ras petelur, dan ayam ras pedaging. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil survey di kabupaten Bogor, Tanggerang, Sukabumi, Bekasi, dan Cianjur diketahui bahwa dalam satu flok ayam petelur, angka kesatikan berkisar antara 30-40% dengan penurunan produksi telur antara 10—50 %, dan perjalanan penyakit berkisar antara 1-3 minggu. Setelah ayam-ayam tersebut sembuh dari sakit, produksi telur akan kemmbali normal (recovery) dalam waktu + 1 bulan.
Angka kesakitan seperti yang dilaporkan diatas, lebih rendah daripada angka kesakitan yang dilaporkan dalam penelitian sebelumnya yang berkisar antara 80-100% (Gordon dan Jordan, et al, 1982). Perbedaan ini kemungkinan karena sekarang ini para peternak dilapangan telah melakukan program faksinasi secara teratur. Baik terhadap penyakit infeksius akibat Mycoplasma gallinarum maupun untuk penyakit lain.

Gejala Klinis
Gejala-gejala klinis dari penyakit ini ditandai dengan keluarnya eksudat dari hidung yang mula-mula berwarna kuning dan encer (sereous), tetapi lama-lama berubah menjadi kental dan bernanah dengan bau yang khas (mukopurulent). Bagian paruh disekitar hidung kotor atau berkerak oleh sisa pakan yang menempel pada eksudat. Sinus infraorbitalis membengkak, yang ditandai dengan pembengkakan sekitar mata dan muka. Kadang-kadang suara ngorok terdengar dan ayam penderita agak sulit bernafas. Penurunan nafsu makan dan diare sering terjadi, sehingga pertumbuhan ayam menjadi terhambat dan kerdil.
Pencegahan
Salah satu yang lazim dilakukan 10 hari pertama ayam masuk adalah vaksinasi pertama. Vaksinasi sebagai bagian penting dari manajemen pemeliharaan ayam menentukan pertahanan tubuh ayam. Penanganan (handling) ayam pada saat vaksin pertama (kill dan live) berdampak besar terhadap reaction post vaccinal (RPV) gangguan system pernafasan. Hal ini terkait dengan perkembangan organ pernafasan yang tak seimbang.
Setelah vaksinasi NDIB dihari pertama sering terjadi gangguan pernafasan ayam. Normalnya vaksin live yang target organnya di saluran pernafasan akan memberikan reaksi seperti itu, hal itu normal sebagai reaksi tubuh ayam terhadap vaksin (benda asing). Tetapi dengan derajat yang tidak parah.
RPV vaksin adalah virus yang dilemahkan dan akan segera menginfeksi, mereplikasi di tubuh hospes dan akhirnya menyebar ke seluruh tubuh viremia (masuk aliran darah) sampai terbentuk memori sel. Pemulihan dari munculnya klinis gangguan pernafasan kurang lebih tiga sampai 4 hari. Lebih dari itu harus diwaspadai adanya infeksi lain di saluran pernafasan.
Derajat keparahan RVP di pengaruhi beberapa faktor, antara lain:
1. Kondisi DOC yang kurang sehat atau bobot dibawah standar akan memberikan derajad RPV lebih tinggi daripada yang normal.
2. Infeksi Mycoplasma gallinarum (MG) baik pada DOC maupun ayam yang sudah dipelihara di kandang.
3. Strain vaksin yang digunakan misalnya vaksinn ND dari strain Ulster, Hitchner B1, Clone, dan Lasota. Derajad RPV akan semakin besar dari Ulster Lasota.
4. Keadaan maternal antibody, DOC dengan maternal antibodi yang tinggi akan memberikan derajad RPV lebih ringan. Karena factor netralisasi virus vaksin oleh antibodi.

Pengobatan
Banyak strain Mycoplasma seperrti juga Mycoplasma gallinarum resisten terhadap cephalosporin dan Vancomisin. Antibiotic yang sensitive diberikan adalah Penicillin, termasuk bakterisidal yang berarti mempunyai kemampuan untuk membunuh bakteri, daya bakterisidal berbeda dengan bakteriostatik karena prosesnya hanya berjalan searah, yaitu bakteri yang telah mati ini tidak dapat berkembang biak kembali meskipun bahan bakterisidalnya dihilangkan.